Lumumba, Ikon Kebangkitan Pan-Afrikanisme di Piala Afrika

Lumumba, Ikon Kebangkitan Pan-Afrikanisme di Piala Afrika
Font size:

Piala Afrika yang diselenggarakan tahun ini tidak hanya menampilkan bakat-bakat sepak bola di lapangan, tetapi juga menyediakan banyak cerita di sisi tribun dan lapangan. Hal ini tak lepas dari berkumpulnya berbagai elemen masyarakat di seluruh Afrika untuk menyaksikan tim nasional kebanggaan mereka di ajang dua tahun sekali tersebut. Penggunaan media sosial juga berkontribusi pada meningkatnya ketertarikan pecinta sepak bola di seluruh dunia terhadap Piala Afrika tahun ini.

Jagat media sosial pun baru-baru ini juga memopulerkan salah satu kisah menarik di tribun. Di laga Republik Demokratik Kongo melawan Senegal, salah satu penonton di tribun menarik perhatian karena berdiri mematung di tengah sorak sorai pendukung. Aksi tersebut tak pelak menarik perhatian penonton, karena posisinya yang tak hanya lebih tinggi dari lainnya, tetapi kemiripannya dengan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Afrika, yakni Patrice Lumumba.

Sejak kasus pembunuhan mengerikan yang konon didalangi oleh Amerika Serikat dan Belgia, Lumumba telah menjadi salah satu tokoh terkemuka di Afrika dan simbol penentangan kolonialisme yang setara dengan Fidel Castro, Gamal Abdel Nasse, hingga Soekarno. Meskipun masa pemerintahannya sebagai Perdana Menteri pertama di Kongo berlangsung singkat, jejaknya masih berpengaruh terhadap cita-cita persatuan Afrika, yang salah satunya melalui olahraga di Piala Afrika. Namun, bagaimana pengaruhnya masih terus bertahan hidup di tengah gempuran zaman?

Lumumba dan Pan-Afrikanisme dalam Piala Afrika

Patrice Lumumba Afcon 2025

Patrice Lumumba, lahir di daerah Kongo yang masih dijajah oleh Belgia pada 1925. Setelah menjalani pelatihan di sekolah kantor pos, Lumumba sempat bekerja sebagai asisten penelitian seorang sosiolog sebelum bergabung dalam gerakan nasionalis Kongo untuk kemerdekaan dari Belgia melalui Mouvement National Congolais. Berbeda dengan tokoh-tokoh politik di Afrika pada umumnya, Lumumba dan gerakan politiknya menyerukan persatuan Afrika dan netralitas dalam urusan luar negeri yang terinspirasi Konferensi Rakyat Afrika di Ghana pada 1958 dan Konferensi Asia-Afrika di Indonesia pada 1955. Puncaknya adalah kemerdekaan Kongo dari Belgia pada 1960 dengan Lumumba sebagai Perdana Menteri pertamanya.

Pasca kemerdekaan Kongo, Lumumba berupaya untuk mengurangi tribalisme kesukuan di Kongo dengan menyerukan Pan-Afrikanisme yang dipopulerkan oleh Kwame Nkrumah dari Ghana. Namun, berbagai suku menolak upaya persatuan Lumumba dan dengan bantuan Belgia dan Amerika Serikat menciptakan apa yang disebut sebagai Krisis Kongo. Semangat Pan-Afrikanisme di Kongo sendiri berakhir dengan kejatuhan dan pembunuhan Lumumba pada 1961. Para separatis di Katanga, yang dengan dukungan tentara bayaran Belgia dan Amerika Serikat, kemudian memutilasi dan melarutkan potongannya dalam asam sulfat.

Meskipun kematiannya sempat mematikan cita-cita persatuan Afrika di Kongo akibat kediktatoran Mobutu Sese Seko yang didukung oleh Amerika Serikat, tapi semangat Pan-Afrikanisme yang dipopulerkannya masih tetap hidup di ingatan. Tak hanya oleh sesama warga negara Kongo, tetapi menyebar hingga lintas benua. Kematian Lumumba juga meningkatkan sentimen gerakan kulit hitam Amerika Serikat yang dipopulerkan oleh Malcolm X, yang menganggapnya sebagai sebagai "orang kulit hitam terhebat yang pernah berjalan di benua Afrika".

Secara tidak langsung, kematian Lumumba berkontribusi pada meningkatnya kekuatan Pan-Afrikanisme di sepak bola, khususnya di penyelenggaraan Piala Afrika. Sejak pertama kali diadakan di Khartoum pada 1957 untuk merayakan pembentukan konfederasi, Piala Afrika telah menjadi ajang wahana bagi idealisme politik penegasan kesetaraan orang Afrika dengan Eropa. Hal ini tercerminkan oleh penolakan partisipasi Afrika Selatan era apartheid. Kala itu, negara-negara Afrika secara kompak menolak keikutsertaan tim kulit putih Afrika Selatan dan membekukan keanggotaannya hingga 1994.

Relevansi Lumumbisme di Industri Sepak Bola Modern

Akor Adams Lumumba AFCON

Berbeda dengan pemikir-pemikir politik di era modern seperti Lenin, Mao Zedong, Gamal Abdel Nasser, atau Nkrumah, pemikiran nasionalisme Lumumba lebih banyak diambil dari sumber-sumber sekunder. Pasalnya, pemerintahannya sangat singkat dan adanya penghancuran kolektif pada era kediktatoran Mobutu selama tiga dekade. Meskipun telah banyak buku membahas Lumumba, yang banyak menggambarkannya sebagai seorang komunis, demagogis, dan tidak kompeten, namun ingatan kolektif rakyat Kongo terhadap cita-cita persatuan Afrika masih bertahan hingga abad ke-21.

Ideologi Lumumbisme yang terdiri dari nasionalisme, progresivisme sosial, anti-kolonial, dan Pan-Afrikanisme, masih bertahan meskipun Lumumba tidak pernah menulisnya sendiri. Namun, kematian Lumumba yang kontroversial berkontribusi pada meningkatnya semangat kolektif Pan-Afrikanisme dan bahaya neokolonialisme yang didalangi oleh kekuatan imperialis Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Warisan ini kemudian menyebar tidak hanya di kancah politik, tetapi juga di sepak bola.

Meningkatnya globalisasi dan komersialisasi sepak bola ibarat pedang bermata dua. Meningkatnya perputaran uang sering kali menjauhkan nilai-nilai sepak bola itu sendiri dari para pendukungnya. Tantangan ini sudah tampak di industri sepak bola modern, di mana meningkatnya harga tiket memaksa lebih banyak suporter memilih menonton di layar kaca dibandingkan langsung ke stadion. Hal ini juga mengancam cita-cita Pan-Afrikanisme dari Piala Afrika yang terancam oleh komersialisasi global.

Komersialisasi Piala Afrika tak lepas dari migrasi pesepak bola Afrika pada 1980-an ke Eropa, yang meningkatkan perlunya hak siar dan komersialisasi olahraga sehingga mengorbankan nilai-nilai politisnya. Hal ini tercermin kan oleh tingginya harga tiket masuk yang melebihi rata-rata pendapatan, yang tercerminkan dari kejadian di laga pembuka Piala Afrika tahun ini, di mana panitia menggratiskan tiket masuk setelah 20 menit awal laga Zimbabwe melawan Mesir.

Berdirinya sosok Lumumba seakan menjadi simbol Pan-Afrikanisme yang tertanam dalam diri bangsa Afrika dan penolakan neokolonialisme dalam bentuk komersialisasi baik dari Kongo atau masyarakat Afrika secara keseluruhan. Dalam tegap berdirinya, seakan sosok tersebut menggaungkan kata-kata terakhir Lumumba sebelum eksekusinya “saya lebih suka mati dengan kepala tegak, iman yang tak tergoyahkan, dan keyakinan terbesar akan takdir negara saya daripada hidup dalam perbudakan dan penghinaan terhadap prinsip-prinsip suci."

 

Penulis:

Muhammad Luthfi Adnan (IG: @m.luthfi_adnan)

Ketidakjelasan Peran dan Tugas Jordi Cruyff di PSSI
Artikel sebelumnya Ketidakjelasan Peran dan Tugas Jordi Cruyff di PSSI
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait